Bermain Hadroh Dalam Kulture Islami

Bermain Hadroh Dalam Kulture Islami

Aug 12, 18
Perep
no comments

Bermain Hadroh Dalam Kulture Islami adalah Salah satu musik Islam tradisional di Indonesia sejak Islam datang ke negara ini sampai sekarang adalah Rebana. Salah satu dari Rebana disebut Hadroh. Musik tradisional ini biasanya dimainkan dalam pertemuan penyebar Islam di masjid Demak yang biasanya disebut “wali songo”. Banyak muslim di Indonesia masih menyukai jenis musik ini karena suara yang indah dan bagus yang dihasilkan oleh musik itu.

Bermain Hadroh Rebana lebih besar dari Rebana Ketimpring. Ini juga disebut Rebana Gedug karena pengucapan ‘u’ terdengar lebih dekat ke ‘0’, sehingga menjadi ‘gedok’.Garis tengah Hadroh ini sekitar 30 cm dan setidaknya terdiri dari tiga atau empat rebana dan satu bass yang memiliki garis tengah antara 50cm-100cm. Dan kita dapat memiliki lebih dari itu. untuk mendapatkan suara yang lebih keras dan biasanya itu tergantung pada jumlah penonton, lebih banyak penonton lebih banyak instrumen. Bermain permainan casino online sangatlah menyenangkan juga lhoo…!!!

Cara memainkannya bukan pukulan biasa tetapi dipukuli seperti permainan drum. Instrumen pertama disebut “bawa”. Instrumen kedua disebut “ganjil” atau “seling”. Untuk bawa dan seling, beberapa orang menyebutnya “Tanya dan Jawab”. Yang ketiga disebut “gedug”. Seseorang menyebutnya “bass” karena suaranya yang besar. “Bawa” atau “Tanya” berfungsi sebagai perintah, ritme ayunannya lebih cepat. Ganjil atau seling mengembangkan saling mengisi dengan bawa. “Ganjil” atau “jawab” berfungsi hidup berdampingan dengan “Bawa”. Gedug berfungsi sebagai bass.

Ada empat jenis pukulan Rebana Hadroh, yaitu: tepak, kentang, gedung, dan pentit. Empat jenis pukulan datang dengan nama-nama pukulan berirama.Nama rhythm punch, antara lain: pukulan jalan rhythm, sander, shabu, pegatan, sirih panjang, sirih pendek dan bima. Lagu Rebana Hadroh diambil dari puisi Addibaai dan puisi Diiwan Hadroh. Dan belakangan ini banyak orang sering menyanyikan lagu-lagu yang diambil dari Simtuddurar yang dibuat oleh Al-‘Alim Al ‘Alamah Al’ Arif billah Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi (1333H) Yang khas dari aliran Rebana Hadroh adalah Adu Zikir.

Ciri khas dari pertunjukan Rebana Hadroh adalah Dzikir bersama.Dalam Dzikir ini tampil dua kelompok berurutan baca puisi Diiwan Hadroh. Kelompok yang hilang umumnya kelompok yang kurang akrab dengan puisi Diiwan Hadroh. Pukulan di Rebana Hadroh lebih melodis daripada pukulan di rebana lainnya, jari tangan kiri sering digunakan untuk menekan, menahan, bahkan menjentikkan penutup kulit (wangkis) dari dalam. Mudehir yang meninggal pada tahun 1960 menjadi tokoh legendaris seni Rebana Hadroh.

leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *